You are here
Home > Uncategorized > Rival leo 2: PT-91M pendekar

Rival leo 2: PT-91M pendekar

Malaysia PT-91M Pendekar

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kru                                          : 3
Bobot tempur                         : 45.300kg
Power/weight ratio                : 18,76hp/ton
Ground pressure                   : 0,94kg/cm2
Panjang                                  : 9,67m (dengan tangki eksternal); 9,53m (tanpa tangki eksternal)
Lebar                                      : 3,59m
Tinggi                                     : 2,19m
Kecepatan jelajah                 : 60km/jam, radius maks 650km
Sudut tanjakan                       : 60o
Kemiringan                            : 50o
Persenjataan (munisi)          : 1x125mm fully stabilised smoothbore gun  D81T/2A46 (22-42 total) ; 1xsenapan mesin koaksial FN MAG (2.000 butir); 1×12,7mm M2HB (200 butir);Elevasi/depresi meriam:  +13o 47’/ -6o13’
Sistem kelistrikan                 : 27V, sumber baterai 4x12V, 180 aH  

Pertama dalam daftar tentunya adalah Malaysia. Dengan perbatasan darat dan lautan dengan Malaysia, banyak kalangan pada level akar rumput di Indonesia menganggapnya sebagai clear and present danger walaupun mereka mengaku saudara serumpun dengan Indonesia. Armada MBT Malaysia mayoritas terdiri dari keluarga PT-91 Twardy (Tangguh)  buatan pabrikan Zaklady Mechaniczne Bumar-Labedy SA, Polandia. Malaysia memesan 48 PT-91M MBT, 6 kendaraan recovery WZT-4, 5 varian AVLB (Armoured Vehicle Launched Bridge) sebagai pembawa jembatan, dan 3 MID-M yang dilengkapi roller dan bilah dozer untuk menerobos rintangan. Seluruhnya dipesan dalam satu kontrak pada April 2003 senilai US$375 juta. Pada saat kontrak ini diajukan, Malaysia menjadi Negara pertama yang menggelar armada MBT modern di Asia Tenggara, dan sempat menjadi pembicaraan hangat di kawasan.

Pada dasarnya PT-91 merupakan varian tiruan dan peningkatan dari MBT T-72M1 lansiran Uni Soviet. Sejumlah modifikasi internal dilakukan, meliputi pemasangan sistem peringatan iluminasi laser OBRA buatan perusahaan dalam negeri PCO yang mampu dijalankan dalam mode otomatis dan manual, terwujud dalam 4 antena. Apabila OBRA yang dipasang dalam mode otomatis menangkap sinyal laser lawan, sistem akan memantik 12 pelontar granat asap Tellur yang jangkauannya mampu menyelubungi seluruh kendaraan. Sistem elektronik diperbaharui dengan pemasangan optik pengindera malam pasif untuk POD-72 dan PNK-72. Sementara sistem proteksi dibenahi dengan pemasangan blok ERA (Explosive Reactive Armour) tipe ERAWA-1 (satu lempeng peledak) dan ERAWA-2 (2 lempeng peledak) yang dikopi dari sistem Kontakt dan Kaktus milik Soviet. Sistem perlindungan aktif dari blok ERA mampu mematahkan serangan hululedak shaped charge dari roket antitank secara efektif, walau mandul menghadapi APFSDS. Dalam paket lengkap, kubah PT-91 akan ditutup 108 blok, hull dengan 118 blok, sementara tiap sisi dengan 84 blok, memberikan perlindungan maksimal terhadap serangan hululedak shaped charge seperti RPG-7 atau munisi HESH. Terakhir, pabrikan bahkan menjamin bahwa hull PT-91 siap dilabur dengan cat yang dapat menyerap gelombang radar. Pasca bubarnya Uni Soviet, Polandia menawarkan produknya yang dibanderol lebih murah dan lebih fleksibel dalam pengintegrasian subsistemnya.

Pada varian PT-91M Pendekar yang dibeli Malaysia, sejumlah sistem optronik buatan Eropa Barat dibenamkan kedalamnya, menjadikannya tank gado-gado Barat dan Timur. Sebagai contoh, dapur pacu PT-91M menggunakan mesin Polish Wola 4 langkah berdaya 1.000hp berpendingin air yang dikawinkan dengan transmisi Renk 350 dengan 7 gigi maju dan 1 mundur. Mesin ini diklaim pabrikan sudah menjalani endurance test sejauh 2.000km tanpa menemui masalah berarti. Untuk bagian rantai, PT-91M menggunakan rantai Diehl Type 840I buatan Jerman yang dilengkapi trackshoe sehingga lebih ramah terhadap aspal jalan raya. Alkomnya menggunakan standar radio taktis Thales P4RG dan sistem interkom Thales OTAS yang kompatibel dengan yang digunakan NATO.

Untuk meningkatkan performa meriam 2A46, Malaysia memilih sistem kendali penembakan Sagem SAVAN-15 (Stabilised Aiming Vertical sensing and Navigation) dari keluarga SAVAN yang dipercaya mengendalikan meriam pada MBT Leclerc (SAVAN-20) dan Challenger 2 (SAVAN-10). Penggunaan sistem penembakan yang distabilisasi dan didukung sistem laser rangefinder ini memberikan kemampuan PT-91M untuk menembak sambil bergerak tanpa kehilangan bidikannya. Hatch pada ruang komandan dimodifikasi dengan penambahan periskop Sagem Vigy 15 yang tak ada pada T72M1, sehingga situational awareness meningkat. Karena meriam yang digunakan adalah standar 2A46, maka munisi yang digunakan pun mayoritas buatan blok Timur yang inferior dibanding munisi Barat. Perlindungan pada varian Pendekar meningkat dibanding Twardy berkat pemasangan sistem LWR SSC-1 OBRA-3 yang lebih modern dibandingkan OBRA-1. Untuk senjata sekunder, Malaysia memilih senjata standar NATO seperti senapan mesin berat M2HB 12,7mm di sisi komandan untuk fungsi anti helikopter, sementara penembak mendapatkan FN MAG 58 GPMG, serupa dengan senapan mesin koaksialnya. 

Sementara untuk varian pengusung jembatan, Malaysia juga meminta modifikasi atas PMC-90 yang pakai jembatan leguan buatan MAN Jerman, bisa direntangkan sejauh 24 meter dengan 1 meter sebagai landasan di tiap sisi. [Aryo Nugroho]

 

Tinggalkan Balasan

Top