You are here
Home > Uncategorized > LVTP/AAV-7

LVTP/AAV-7

 

The Legend Carries On (The Legend in the Making)

 

Bicara soal AAV-7, tidak mungkin rasanya melepaskan pengaruh kuat dinasti Amtrac yang sudah tumbuh turun-temurun sejak Perang Dunia II. Di tangan AAV-7, tongkat estafet itu terus dibawa berlari menuju kejayaan.

Sebelum AS mengenal keberadaan amphibious tractor, AB AS cuma mengenal kapal pendarat LVCP-4 Higgins sebagai sarana pendarat pasukan infanteri ke pantai. Hal ini tentu sangat beresiko, mengingat ada jarak yang terbentang antara bibir pantai dengan bunker dan titik pertahanan lawan, sementara pantai yang terbuka tidak menawarkan perlindungan apapun bagi pasukan yang mendarat. Hal ini terbukti benar di pantai Normandy, ketika sekutu melancarkan pendaratan amfibi lewat operasi Overlord. Nyaris di semua titik pendaratan, korban sudah mulai berjatuhan bahkan sebelum mencapai bibir pantai. Jikapun selamat dan berhasil keluar dari Higgins, para prajurit tetap harus menyabung nyawa tanpa perlindungan di medan pembantaian sebelum mereka mampu mencapai posisi tentara Jerman.

Sebenarnya, jauh sebelum perang dunia II meletus, sudah ada upaya untuk menciptakan kendaraan yang bisa berjalan di dua alam sekaligus. Pada 1933, Donald Roebling, menciptakan traktor amfibi yang didedikasikan untuk menyelamatkan korban bencana topan di wilayah Florida, terutama daerah yang berupa rawa-rawa seperti di Okeechobee. Sebagai material utama, Roebling mencomot alumunium yang ringan dan tahan karat, sehingga meningkatkan daya apung traktornya. Digerakkan oleh mesin Chrysler 97 hp model komersial, traktor amfibi Roebling terbukti sukses, sehingga ia dan ciptaannya sempat masuk dalam artikel majalah Life. Seakan mencerminkan kemampuan buah karyanya, Roebling membaptis ciptaannya dengan nama Alligator.

Kesuksesan rupanya terus membayangi Roebling. Pada 1937, Mayjen Louis Mc Carty Little yang menjabat Komandan Korp Marinir AS mulai tertarik pada karya Roebling. Gayung pun bersambut, Roebling setuju untuk membuat prototipe baru traktor amfibi yang disesuaikan dengan spek yang diminta Korp Marinir. Dengan US$ 18.000 yang dirogohnya dari kocek pribadi dan kerjasama dari perusahaan Food Machinery Corporation, Roebling menyelesaikan prototipe yang dijuluki Alligator 3. Ditenagai oleh mesin Lincoln-Zephyr 120 hp, Alligator 3 menampilkan bentuk kabin terbuka, namun dengan pelat baja di 4 sisi sehingga marinir di dalamnya tetap terlindung dengan aman. Tidak lupa, sebagai senjata ofensif dipilih senapan mesin Lewis 1920 atau Browning 0.30 in. Puas dengan kinerja Alligator 3, pada 1940 Korp Marinir dan AL AS mengadopsi Alligator 3 sebagai LVT-1 (Landing Vehicle Tracked-1) atau bila diterjemahkan secara harafiah, kendaraan pendarat berpenggerak rantai yang pertama. Penyempurnaan lanjutan kemudian melahirkan LVT-2 Buffalo yang lebih bertenaga dan LVT yang dipadukan dengan kubah tank M3 dengan kode LVT(A)-1 pada 1943.

Tidak butuh waktu yang lama untuk membuktikan kedahsyatan ciptaan Roebling. Perang Pasifik membawa ciptaan Roebling ke berbagai pertempuran hebat yang dihadapi Korp marinir seperti di Guadalcanal, Tarawa, dan Iwo Jima. Di Tarawa, LVT membuktikan keampuhannya. Diluncurkan berbarengan dengan LVCP-4 Higgins, marinir dalam LVT mampu melintasi karang dan melaju terus melewati pantai. Sementara marinir yang kurang beruntung di LVCP, harus berenang karena Higgins tidak mampu melewati gugus karang. Nasib sial mereka tidak berhenti di situ, karena marinir yang berenang dengan lambat akibat beban perlengkapan, menjadi sasaran empuk tembakan sniper dan sarang senapan mesin dari tentara Jepang yang mempertahankan pulau. Bab Perang Dunia II ditutup dengan kehadiran LVT-3 dan LVT-4, dan dengan total US$ 50 juta yang sudah dikucurkan departemen perang untuk memproduksi keluarga LVT.

Pasca PD II, evolusi LVT berlanjut ke seri LVT-5. Generasi kedua dari LVT yang lahir pada 1956 ini menawarkan sesuatu yang baru berupa kompartemen kabin yang seluruhnya tertutup, sehingga keamanan pasukan lebih terjamin. Dari segi kemampuan, LVT-5 dapat diluncurkan lebih jauh dan memiliki kestabilan renang yang lebih baik dibanding dengan pendahulunya. Biarpun masih di tengah suasana perang Vietnam, Korp Marinir rupanya tetap tidak puas dengan kinerja LVT-5. Haus bahan bakar dan sosok yang terlalu tambun menjadi alasan utama mengapa LVT-5 harus cepat-cepat dipensiunkan. Tidak perlu jauh-jauh mencari, FMC kembali dipercaya untuk membuat pengganti LVTP-5.

Kepercayaan yang diberikan Korp Marinir tidak disia-siakan FMC. Dalam waktu yang relatif cepat, prototipe pertama yang disebut LVTPX12 sudah berpindah dari meja desain ke lapangan uji pada tahun 1967, tidak sampai 5 tahun setelah Korp Marinir merilis spesifikasi traktor amfibi yang mereka inginkan. Ditenagai oleh mesin GM8V53T yang dilengkapi supercharger, LVTPX12 mampu membawa beban sampai 10 ton, namun masih mampu dipacu sampai kecepatan 72 km/jam.

Tidak hanya berhenti pada LVTPX12, FMC berturut-turut merilis varian Recovery berupa LVTPRX2 pada 1968 dan varian Command LVTCX2 pada 1969. Korp Marinir sendiri merasa sangat puas pada generasi ketiga LVTP ini. Bisa dibilang, tidak ada perubahan berarti yang dituntut oleh Korp Marinir dari LVTPX12, sehingga proses transisi ke proses produksi tidak menemui hambatan berarti. Walaupun FMC sudah diberi mandat untuk memproduksi masal LVTPX12 menjadi LVTP-7, namun kehadirannya sudah terlambat untuk mengubah sejarah perang Vietnam. Baru pada 5 April 1972, Korp Marinir AS mengaktifkan kompi LVTP-7 pertamanya di 2nd Assault Amphibian Battalion, sudah terlambat untuk merubah jalannya perang. Akhirnya pada 1978 semua armada LVTP-5 resmi dipensiunkan dan ditransfer ke Korea Selatan dan Taiwan, sementara LVTP-7 mulai menjalankan perannya sebagai sang kuda beban yang membuat sejarah.

Tinggalkan Balasan

Top