You are here
Home > Uncategorized > LVTP/AAV-7

LVTP/AAV-7

The Workhorse of the Corps

Dibandingkan dengan saudaranya dari AD AS, sosoknya memang tidak segarang MBT M1A1 Abrams, tidak pula segagah M2 Bradley. Namun di tangan AAV-7, terletak inti kemampuan mobilitas Korp Marinir AS yang sudah teruji nyaris seabad lebih.

Buat Korp Marinir AS yang ditunjuk sebagai satu-satunya cabang kekuatan yang boleh melaksanakan operasi amfibi berdasarkan UU U.S. National Security Act 1947, kecepatan dan mobilitas adalah segalanya. Hal ini berarti Korp Marinir mutlak sangat membutuhkan sarana kendaraan pendarat pasukan yang dapat menduduki pantai dengan cepat, namunĀ  masih menomorsatukan keselamatan pasukan infanteri yang menumpang di dalamnya. Maklum, sehebat apapun teknologi yang diaplikasikan, serangan frontal pada pantai yang masih dipertahankan musuh sampai titik darah penghabisan tetap akan meminta tumbal nyawa pasukan dalam jumlah besar.

Ketika FMC menghadirkan LVTP-7, faktor-faktor seperti daya angkut, jelajah, kapasitas dan proteksi benar-benar diakomodasi dalam Amtrac yang terhitung sudah memasuki generasi ketiga ini. Dilihat dari konfigurasi bentuk, LVTP-7 didesain dengan bentuk lambung kotak berbentuk haluan dan tinggi layaknya kapal, agar menghasilkan daya apung (buoyancy) yang optimal. Namun biarpun sosoknya terhitung tinggi, saat berenang LVTP-7 hanya menampakkan sepertujuh dari siluet tubuhnya, sehingga musuh pun akan menghadapi kesulitan saat membidik LVTP-7. Sebagai bahan pembuat bodi, dipilih alumunium grade 5083 yang ringan dan tahan karat. Biarpun metode pembuatan masih menggunakan sistem pengelasan dan belum menganut sistem monokok, lapisan armor LVTP-7 tetap mampu menahan impak dari peluru kaliber 7,62 mm ComBloc, ledakan granat, sampai pecahan peluru artileri.

Untuk menggerakkan LVTP-7, FMC mempercayakannya pada mesin General Motors 8V53T yang digendong di kompartemen depan LVTP-7. Dengan daya maksimal yang disemburkan sebesar 400 hp dan dukungan dari sistem transmisi FMC HS-400-3 dengan 4 percepatan, LVTP-7 sanggup dipacu berlari sampai kecepatan 64 km/jam di darat, dengan jarak tempuh maksimal sampai 480 km. Sementara saat harus berenang, tersedia sepasang waterjet di sisi kiri dan kanan yang mampu mendorong LVTP-7 sampai kecepatan 14 km/jam dengan muatan penuh. Selain waterjet, rantai LVTP juga berfungsi sebagai pendorong tambahan. Dengan kemampuan renangnya ini, LVTP-7 tinggal diluncurkan keluar dari dek kapal LPD dan meluncur sendiri ke pantai dengan jarak yang aman dari jangkauan artileri musuh.

Biarpun dirancang seratus persen kedap air, proses peluncuran LVTP-7 tetap terhitung menegangkan. Ketika aba-aba sudah diberikan, LVTP-7 tinggal dijalankan langsung keluar dek dan masuk ke lautan lepas. Sedetik kemudian, LVTP akan tenggelam terlebih dahulu sebelum daya tekan ke atas kembali mengapungkan LVTP-7. Saat memasuki fase apung kembali, waterjet LVTP-7 sudah harus sudah berfungsi dalam lima detik, atau maut akan menghampiri dan langsung menenggelamkan LVTP-7. Namun bila skenario terburuk ini harus terjadi, FMC siap dengan solusi untuk keadaan darurat semacam ini. Rahasianya, LVTP dirancang agar tetap mampu survive di kedalaman maksimal 3 meter, dimana di kedalaman ini mesin, transmisi, dan rantai LVTP-7 masih tetap dapat berfungsi untuk menggerakkan LVTP-7 sampai ke pantai.

Bergeser ke urusan penumpang, sejak LVTP-7 diluncurkan untuk pertama kali, konfigurasi standarnya adalah diawaki oleh tiga kru, yaitu komandan, pengemudi, dan asisten pengemudi. Pengemudi ditempatkan di sebelah kiri depan tepat di samping kompartemen mesin. Tugas pengemudi LVTP-7 dimudahkan dengan hadirnya perangkat sistem kompas digital KVH MV103 yang murah namun andal. Biarpun kalah canggih dibanding dengan sistem navigasi berbasis inertial gyrocompass yang terpasang pada MBT macam M1 Abrams, MV103 justru mampu menyediakan sistem backup saat GPS (Global Positioning System) gagal. Selanjutnya, tepat di belakang pengemudi duduk asisten pengemudi (driver assistant/ troop commander) yang bila diibaratkan di pesawat angkut bertugas sebagai jump/load master untuk mengatur aliran keluar-masuk marinir dari perut LVTP-7. Posisi asisten menjadi sangat penting, mengingat kemampuan LVTP-7 yang mampu mengangkut 2 regu pasukan dalam perutnya sekali jalan. Selain itu, asisten pengemudi juga menjadi mata dan telinga tambahan bagi pengemudi dengan periskop infra merah M24 yang terpasang di kubahnya. Sementara itu, di lambung kanan duduk komandan (vehicle commander) yang juga bertugas sebagai penembak dengan satu-satunya senjata defensif yaitu senapan mesin berat FN Browning M2HB yang terpasang pada platform berputar. Untuk menembakkan M2HB, mau tidak mau komandan memang harus keluar dan mengekspos dirinya terhadap kemungkinan tembakan lawan.

Biarpun lemah di urusan persenjataan, urusan kapasitas angkut pasukan LVTP-7 harus diacungi dua jempol. Bayangkan, dengan daya muat logistik sampai 5 ton atau 20 orang marinir bersenjata lengkap, LVTP-7 jelas layak jadi jawara untuk urusan angkut-mengangkut. Bila ini dirasa masih kurang cukup, masih ada bangku yang bisa dipasang di tengah-tengah, di antara 2 sisi kursi pasukan. Kalau kursi tambahan sudah dibuka, kapasitas angkut melonjak lagi jadi 25 orang, atau setara dengan 2 regu pasukan menurut standar AS. Saat bangku tidak terpakai, bangku tambahan ini tinggal dilipat dan dipajang di dinding sisi kiri, tepat di atas posisi kepala marinir yang menumpang. Di sisi lain, dengan penumpang (efektif) sebanyak 17-20 orang, sudah tentu sarana keluar masuk pasukan menjadi hal yang sangat krusial. Percuma kan kalau daya angkut banyak, tapi untuk keluar harus menunggu giliran? Untuk soal yang satu ini, para perancang LVTP-7 juga tidak kekurangan akal. Bila pasukan yang diangkut sedikit atau tembakan musuh sedang gencar, pasukan bisa keluar dari pintu kecil di sisi belakang. Kalau mau keluar secara berbarengan, keseluruhan dinding belakang LVTP-7 bisa dibuka penuh, atau kalau perlu menggunakan dua pintu di sisi atas yang membujur dari belakang sampai tepat di belakang hatch asisten pengemudi.

Tinggalkan Balasan

Top