You are here
Home > Uncategorized > LVTP/AAV-7

LVTP/AAV-7

Dari Angkut ke Serang

Pada tahun 1985, Korp Marinir AS mengalami perubahan doktrin. Konsep kekuatan terpadu yang terwujud dalam MAGTF (Marine Air Ground Task Force) yang kini disempurnakan mengharuskan Korp Marinir agar mampu memproyeksikan kekuatannya untuk menusuk jauh ke daratan, tidak lagi sekedar mendarat dan menguasai pantai. Hal ini berarti Korp Marinir tentu membutuhkan kendaraan angkut pasukan yang mampu menjalankan fungsi terpadu, mulai dari mendarat dari kapal sekaligus bertempur. Selain itu, kehadiran kendaraan berteknologi baru seperti hovercraft tipe LCAC membuat pendaratan pasukan menjadi lebih cepat, sehingga peran utama LVTP-7 pelan-pelan tersingkir. Di sisi lain, Korp Marinir terbentur ke masalah klasik: dana. Biarpun terhitung sebagai angkatan perang tertua di AS, urusan alokasi anggaran, Korp Marinir selalu dianaktirikan.

Tidak punya dana untuk mengembangkan ranpur baru, para petinggi Marinir terpaksa kembali menengok ke LVTP-7. Demi sebuah tujuan mulia, designasi pendarat (LVT) diubah menjadi serang (AAV-Assault Amphibious Vehicle). Urusan peningkatan kemampuan cukup diakali dengan program SLEP (Service Life Extension Program) yang lebih murah untuk memperpanjang umur kendaraan. Sebanyak 853 unit LVTP-7 diikutkan program SLEP, sementara 333 unit lainnya dipesan gres dari pabrikan. Bagian pertama yang diulik dengan program SLEP adalah jeroan kendaraan. Mesin AAV-7 kini diperbarui dengan Cummins VT400 dengan 8 cylinder, 4 cycle, vee, turbosupercharged diesel yang lebih hemat bahan bakar.

Menyusul kemudian, sisi ofensif yang kena sentuhan SLEP dengan pemasangan kubah tertutup M36E3 UGWS (Up Gunned Weapon Station) buatan Cadillac Gage. Yang istimewa, kubah UGWS ini terbuat dari logam Cadloy yang diracik dari campuran Baja, Nikel, Cobalt, dan Molybdenum, sehingga berbobot ringan namun tahan peluru kaliber sedang. Kinerja UGWS pun terhitung mumpuni, mampu menyelesaikan putaran 360 derajat dalam waktu 8 detik. Komandan tinggal menentukan arah putar kubah dengan menginjak sepasang pedal di posisi kaki. Di dalamnya masih tetap terpasang senapan mesin Browning M2HB, namun kali ini kehadirannya dilengkapi dengan senapan mesin berat pelontar granat Mk19 mod 1 40 mm untuk meningkatkan daya pukul yang dimiliki AAV-7. Supaya jangkauan senjata dapat tergarap maksimal, kubah UGWS juga dilengkapi sistem pembidik AN/VVS-2 dengan perbesaran 2 kali. Dengan bantuan AN/VVS-2, komandan kendaraan sudah bisa mendeteksi musuh dari jarak 4 km, mengenali lawan pada jarak 1,3 km, dan mulai mengidentifikasi jenis  kendaraan lawan secara pasti serta mengeliminasi lawan secara efektif pada jarak 1 km. Terakhir, biarpun fungsi utamanya sudah berubah, kemampuan renang AAV-7 masih tetap diupayakan meningkat. Untuk memperbaiki stabilitas ketika berenang, pada bagian haluan sisi depan AAV-7 ditambahi bow plane untuk memecah ombak.

Setelah melalui program SLEP, AAV-7 kini dapatlah disebut sebagai ranpur. Boleh dibilang, kelas AAV-7 berada di antara truk pengangkut pasukan kelas 5 ton yang dipersenjatai (gun truck) dan AIFV M2 Bradley milik AD AS. Namun biarpun sudah naik kelas, AAV-7 tetap menyimpan beberapa kelemahan yang belum dibereskan. Untuk urusan perlindungan, lapisan tubuh AAV-7 jelas tidak akan mampu menahan impak ledakan langsung dari roket anti tank lawan macam RPG-7, apalagi bila dihantam roket dual warhead macam RPG-29 Vampir, sudah pasti AAV-7 luluh lantak. Kelemahan kedua, AAV-7 masih belum dilengkapi sistem proteksi Nubika (Nuklir, Biologi, Kimia) sehingga kemampuannya bertahan dalam pertempuran modern masih diragukan. Hal ini disiasati dengan penggunaan sistem perlindungan individual MOPP (Mission Oriented Protective Posture) setiap kali ada peringatan penggunaan senjata nubika oleh lawan. Namun di sinilah pangkal masalahnya. Selain pemakaiannya ribet, MOPP juga sangat tidak nyaman dan panas. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana tersiksanya marinir AS ketika melintas menembus Irak dalam Perang Teluk II dan III saat harus mengenakan MOPP berulang kali setiap markas memberitahu ada peluncuran rudal Scud. Selain itu, juga didapati bahwa ground clearance AAV-7 juga turun akibat keberatan beban dari komponen upgrade yang dijejalkan ke AAV-7.

 

The Ultimate AAV-7A1

Semua kekurangan ini mendorong Korp Marinir untuk melakukan penyempurnaan akhir ke AAV-7. Ditambah dengan terus molornya proyek EFV, Korp Marinir akhirnya memang tidak punya alternatif selain memperpanjang usia pakai AAV-7 melalui program upgrade tambahan. Dalam program yang dikemas dengan kode RAM/RS (Reliability, Availability, Maintainability/Rebuild to Standard) yang dilaksanakan mulai 1997, Korp Marinir berupaya mengembalikan performa fisik AAV-7 seperti ketika pertama kali diluncurkan. Untuk urusan modifikasi jeroan, perusahaan FMC yang kini bersalin menjadi United Defense kembali dipercaya menggawangi proses modifikasi ini. Tidak perlu jauh-jauh, FMC tinggal mencomot mesin Cummins VTAC 525 903 berdaya 525 hp dan sistem suspensi torsion bar yang tadinya dikembangkan untuk M2 Bradley. Aroma kolusi positif memang sangat terasa di sini, karena memang FMC juga turut mengembangkan keluarga Bradley untuk AD AS.

Di sisi pertahanan yang sudah kedodoran sejak awal, disiasati dengan pemasangan modul EAAK (Enhanced Applique Armor Kit) buatan perusahaan Israel, Rafael. Rahasia EAAK terdapat pada lapisan baja homogen di sisi luar, diikuti dengan berlapis-lapis Kevlar di sisi dalam. Lapisan armor tambahan yang memiliki bentuk menyerupai sandwich ini dipasang di sekujur tubuh AAV-7A1 dengan sistem bolt-on, sehingga mudah dilepas pasang. Untuk memasangnya juga tidak diperlukan modifikasi besar. Para teknisi tinggal menambah lempengan-lempengan baja kecil di seluruh tubuh AAV-7A1 sebagai tempat menempelnya EAAK. Kalau sudah dipasangi EAAK, awaknya bisa tenang saat harus menghadapi musuh yang dipersenjatai dengan senapan anti material atau ATGM. Bahkan menurut klaim pabrikannya, EAAK mampu menahan impak kaliber anti material  14,5 mm dari jarak 300 meter, bahkan masih mampu menahan ledakan tidak langsung peluru meriam kaliber 152/155 mm dari jarak 15 meter. Modifikasi lain yang ditambahkan berupa sistem pemadam otomatis seperti yang terdapat di M1A1 Abrams dan penyekat bahan kimia berupa sistem gas buang dan ventilasi yang diperlakukan dengan material khusus, sehingga AAV-7A1 bisa diajak bertempur di lingkungan perang Nubika.

Ketika merefleksikan AAV-7, pantaslah bila menyebut ranpur yang satu ini sebagai kuda beban yang setia. Larinya mungkin tidak kencang, persenjataannya juga tidak setrengginas ranpur terkini. Hanya, tidak ada satupun ranpur yang bisa mengalahkan fungsi utama AAV-7 sebagai kendaraan pendarat dan angkut pasukan berkapasitas besar. Until the dawn of 2020, live on AAV-7!

 

Tinggalkan Balasan

Top