You are here
Home > Uncategorized > SEHARI DI LIMA 2015

SEHARI DI LIMA 2015

LIMA 2015 aircrafts

Terik matahari yang membakar aspal bandara internasional Langkawi tidak dapat menghalangi pandangan pada rentetan pesawat yang berjejer di salah satu sisi bandara. Rentetan pesawat Aermacchi MB-339A milik tim aerobatik “Al Fursan“(Para Ksatria) dari Uni Emirat Arab berjejer rapi, dengan kokpit ditutup terpal. Begitupun dengan jejeran pesawat Chengdu J10 milik tim aerobatik “August 1st“”>八一飞行 dari Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF), Republik Rakyat Tiongkok. Kehadiran mereka menyiratkan waktu istirahat sebelum waktunya beraksi menghiasi langit di ajang Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition (LIMA) 2015.

LIMA 2015 aircrafts

 

LIMA 2015 adalah pameran dwitahunan kedirgantaraan dan maritim yang diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia, dengan arahan pasar militer, sipil serta komersil. Lokasi utama bertempat di Mahsuri International Exhibition Center, termasuk ajang display pesawat udara yang meramaikan kegiatan. Sementara untuk pameran maritimnya berlokasi di Resort World Langkawi, dimana ajang display kapal diposisikan di Star Cruises Terminal, Porto Malai. LIMA 2015 diselenggarakan pada tanggal 17 – 21 Maret 2015.

Acara ini dikunjungi oleh berbagai pejabat negara dunia, baik sipil maupun militer. Salah satunya adalah Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Ryamizard Ryacudu. Beliau mengunjungi berbagai booth di dalam hall pameran, termasuk Rosoboronexport (lembaga negara Federasi Rusia yang mengatur ekspor-impor alat pertahanan Rusia) dan Saab (perusahaan asal Swedia yang bergerak dalam kedirgantaraan dan pertahanan).

Menhan meninjau Rosoboronexport

Di booth Saab, Menhan mendapatkan presentasi mengenai program Gripen, Erieye dan trimaran Stealth Fast Attack Craft. Saab sendiri memamerkan beragam produk di samping tiga sistem di atas, seperti: rudal anti kapal RBS15 Mk3, pesawat intai maritim Saab 340 MSA (Maritime Surveillance Aicraft), pesawat patroli maritim Saab SWORDFISH MPA Maritime Patrol Aircraft), rudal pertahanan udara jarak sangat dekat RBS 70 NG VSHORAD, beserta produk-produk lainnya.

Menhan mendengarkan penjelasan mengenai Gripen

Menhan mendengarkan penjelasan mengenai Stealth FAC

Menhan mendengarkan penjelasan mengenai Erieye

Dalam ajang LIMA 2015, Saab juga mengadakan press briefing untuk menjelaskan dua program utama yang dijagokan untuk ditawarkan kepada pemerintah Malaysia: sistem AEW&C (Airborne Early Warning & Control) Erieye serta pesawat tempur JAS-39 Gripen.

Saab Press Briefing

Saab presentation press briefing

Thomas Linden, Head of Saab Malaysia, menyampaikan garis besar kiprah Saab di Malaysia. Sementara Lars Tossman (Vice President and Head of Airborne Surveillance Systems Business Area Electronic Defence Systems) menjelaskan bahwa Saab berpartner dengan perusahaan malaysia DRB-HICOM (Deftech) dalam menawarkan program Erieye AEW&C.

Kaj Rosander selaku Head of Major Campaign Saab Asia Pacific menggadang-gadang Gripen sebagai pesawat tempur multi-peran (multirole) dengan lifecycle cost terendah dibandingkan penempur lain sekelasnya di pasaran. Saab juga menawarkan transfer teknologi dari Gripen kepada semua negara calon pembeli.

Saab presentation

Dalam tanya jawab, Saab menyatakan bahwa delivery tercepat untuk Gripen NG adalah 2018 bagi para pemesan awalnya. Saab juga menyatakan bahwa mereka akan fleksibel terhadap kemampuan sistem Erieye yang diinginkan, bergantung pada permintaan negara pembeli, termasuk platform pesawat terbang yang digunakan. Erieye sudah memiliki platform standar seperti Saab 340 dan Saab 2000, namun juga negara pembeli ingin memakai platform lain, maka Saab bersedia berdialog terkait integrasi sistem tersebut pada platform baru. Namun adanya integrasi ini akan menimbulkan “non recurring cost” (biaya tidak berulang), yaitu biaya re-engineering (rekayasa ulang) aspek-aspek pada sistem baru (contoh: aerodinamika antara sistem Erieye dengan platform pesawat baru). Hal ini menimbulkan biaya tambahan, dimana Saab bersedia berdialog dengan negara pembeli terkait biaya pengembangan bersama tersebut.

Booth Saab juga menghadirkan simulator Gripen. Dalam simulasi kali ini, Saab mencontohkan bagaimana network centric battle bekerja dalam sebuah skenario pertempuran udara. Saab Chief Test Pilot Richard Ljungberg memandu sepanjang durasi “pertempuran”. Pada dasarnya, skenario yang disimulasikan kali ini sangat mirip dengan skenario dalam video resmi Saab “We Are Gripen Pilot”. Dalam skenario ini, unit pesawat simulator ini bersama tiga pesawat kawan (juga berbentuk JAS-39 Gripen) harus menghancurkan empat pesawat musuh. Dalam skenario kali ini, Ljungberg memandu penggunaan rudal BVR serta rudal jarak dekat guna menghancurkan musuh.

Seperti halnya dalam video di atas, Gripen memiliki kemampuan jaringan terintegrasi antara pesawat dengan elemen lain dalam pasukan kawan. Masukan data dari pesawat lain mengkomplemen kewaspadaan situasional (situational awareness), dan ini belum termasuk masukan data dari pesawat AEW&C yang berada dalam area pertempuran. Posisi pesawat musuh yang dilihat oleh radar pesawat kawan terpampang jelas di display di simulator ini, dan setiap pesawat dapat memilih target yang disasar, dimana saat itu juga pesawat lainnya akan mengetahui sasaran yang dipilih. Aspek lainnya seperti data sisa munisi, sistem perlindungan diri dan bahan bakar, kesemuanya dapat dilihat secara real time baik oleh pesawat lainnya maupun elemen lainnya (seperti pusat komando dan pesawat AEW&C).

Peningkatan situational awareness ini menjadi kunci pertempuran udara modern, dimana alur pengambilan keputusan berdasarkan laporan situasi di lapangan menjadi jauh lebih singkat, dan menjadi basis network centric warfare.

Richard Ljungberg, Saab Chief Test Pilot

Sementara itu di bagian lain dari arena expo, salah satu perwakilan Indonesia yaitu PT Dirgantara Indonesia (PTDI) juga membuka booth, yang memamerkan model CN-235 versi Maritime Patrol Aircraft (MPA).

Booth PTDI

Bergeser ke tarmac, pameran statis (static display) yang ada cukup mencengangkan, mulai dari pesawat angkut buatan Eropa terbaru Airbus A400M milik Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM), pesawat lain dalam inventori TUDM seperti Sukhoi Su-30MKM, Boeing F/A-18D Hornet, pesawat Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) seperti Super Lynx dan Fennec, JAS-39 Gripen dari AU Thailand, replika skala penuh Eurofighter Typhoon, dan lain sebagainya.

A400 TUDM

Boeing MSA

Gripen RTAF

Agusta Westland AW-169

Agusta Westland AW-169

Agusta Westland AW-189

Agusta Westland AW-189

Eurofighter Typhoon full scale replica

 

Jika pada Indonesia Defence Aerospace and Maritime Expo (IDAM) jarang sekali ada static display dari alutsista Amerika Serikat, maka LIMA 2015 menghadirkan beragam alutsista mutakhir kedirgantaraan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, termasuk Angkatan Udara (USAF), Angkatan Laut (USN), serta Korps Marinir Amerika Serikat (USMC).

USMC menghadirkan helikopter UH-1Y. Sgt Jesse Williams selaku mekanik perawatan helikopter menjelaskan bahwa dengan adanya varian terbaru Yankee dari Huey tersebut, maka misi yang dibebankan padanya menjadi lebih banyak. UH-1Y yang dihadirkan dalam pameran ini berasal dari skadron HMLA-367 “Scarface”, Hawaii. Transportasi helikopter UH-1Y dari Hawaii ini dilakukan menggunakan pesawat transpor C-17. Slogan yang mereka pakai adalah “Hover Cover”, sebuah slogan yang berasal dari misi utama mereka guna melaksanakan dukung serangan udara jarak dekat (close air support), dimana mereka akan memberikan tembakan perlindungan (suppresive fire) melindungi elemen darat sambil melakukan hovering. Capt. O’Keefe selaku pilot juga menjelaskan bahwa helikopter ini juga pernah terlibat dalam Operation Enduring Freedom (OEF) di Afghanistan, serta penugasan dalam gugus tugas Marine Expeditionary Unit (MEU).

USMC HMLA-367 “Scarface” UH-1Y

HMLA-367 “Scarface”

Sgt Jesse Williams and Capt. O’Keefe

Dalam LIMA 2015, Angkatan Laut Amerika (USN) menghadirkan USS Shiloh (CG 67), kapal perang jenis guided missile cruiser dengan kelas Ticonderoga. Shiloh membawa salah satu helikopter dari Detasemen 4 skadron angkut sayap putar yaitu Helicopter Strike Maritime Squadron HSM-51 “Warlords”, yang berbasis di Naval Air Facility Atsugi, Jepang. “Warlords” adalah bagian dari Armada Ke-7 AL Amerika Serikat. Salah satu helikopter dari skadron tersebut dihadirkan di LIMA kali ini, yaitu MH-60R Seahawk. Scott Collard selaku pilot helikopter ini menjelaskan bahwa skadronnya baru dua tahun melaksanakan transisi dari MH-60B ke MH-60R. Burleigh, mekanik perawatan mengatakan bahwa perubahan dari Seahawk Bravo ke Romeo bagaikan berubah “dari naik Chevy ke naik Cadillac”. Dalam hal perawatan, versi Romeo dengan sistem terbaru memudahkan dan mengefisienkan perawatan helikopter. MH-60R dapat ditugaskan di kapal perang yang sudah dilengkapi dengan sistem pendaratan LAMPS (Light Airborne Multi-Purpose System).

HSM-51 “Warlords” badge

USN HSM-51 “Warlords” MH-60R crews

Terdapat juga F-15D dari USAF 44th Fighter Squadron yang berasal dari 18th Wing di Kadena Air Base, Jepang dan F/A-18F dari US Navy VFA-102 “Diamond Backs” yang berbasis di kapal induk USS George Washington, serta P-8A Poseidon dari Patrol Squadron (VP) 45.

USAF F-15D, 44th Fighter Squadron

F-15D rear view

USN F/A-18F Super Hornet, VFA-102 “Diamond Backs”

F/A-18F Super Hornet tail detail

P-8 Neptune

TNI AL tidak kalah dengan menghadirkan CN-235 versi MPA dari Skadron Udara 800 (Ron 800), dimana pengunjung dapat berinteraksi dengan personil Puspenerbal (Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut) dan melihat-lihat konsol serta kokpit pesawat.

CN-235 MPA Ron 800 Pusnerbal TNI AL

Personil CN-235 MPA Ron 800 Pusnerbal TNI AL

 

Personil CN-235 MPA Ron 800

 

Dalam LIMA 2015 kali ini, terdapat kesempatan langka berupa flypass pesawat B-52 Stratofortress dari pangkalan Diego Garcia, dimana B-52 tersebut terbang langsung dari pangkalan, melakukan flypass, lalu kembali ke pangkalan, seakan membuktikan jangkauan global pesawat pembom arsenal USAF tersebut.

LIMA 2015 juga mengetengahkan aerial display, termasuk tim aerobatik “Al Fursan” dan “August 1st”, ditambah tim aerobatik “Kris Sakti” dari Malaysia, “Black Knights” dari Singapura, beserta penampilan individual pesawat lainnya seperti Dassault Rafale dan Lockheed Martin F-16CJ.

J-10 PLAAF

F-16 RSAF

Secara keseluruhan, LIMA adalah acara besar dwitahunan yang menjadi ajang yang ditunggu-tunggu produsen alat pertahanan dunia, terutama dalam bidang kedirgantaraan dan maritim, maupun oleh berbagai perwakilan angkatan bersenjata dunia yang memiliki perwakilan di Malaysia. LIMA juga menjadi ajang pemerintah Malaysia untuk menunjukkan berbagai alutsista yang mereka miliki, serta menjadi ajang promosi Langkawi sebagai “Permata Kedah”. Mari kita menunggu LIMA berikutnya di tahun 2017, yang diantisipasi akan lebih besar lagi dalam ukuran dan skalanya.

Tinggalkan Balasan

Top