You are here
Home > Artikel > Helikopter Pembom Air Siap Beraksi

Helikopter Pembom Air Siap Beraksi

Memasuki musim kemarau, bencana kebakaran hutan dan lahan kembali mengintai. Menurut BNPB, satelit LAPAN telah mendeteksi peningkatan jumlah titik panas di berbagai wilayah di Indonesia. Data pada 30 Juli lalu menunjukan sudah terdapat 239 hotspot, dengan sebaran di Kalimantan Barat, NTT dan Aceh. Titik panas paling banyak terdapat di Kalimantan barat dengan jumlah 126 titik.

ARCinc sebagai media aviasi dan militer tentu tidak akan membahas mengenai bencana yang menyesakan ini. Seusai khitahnya, ARCinc akan membahas mengenai “kekuatan udara” yang dikerahkan oleh BNPB untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan. BNPB sendiri menempatkan sebanyak 4 helikopter di wilayah Kalimantan Barat sebagai pembom air. Mereka adalah Bell-214, Bo-105, Mi-8 serta Kamov Ka-32. Pengerahan helikopter pemadam ini menjadi penting karena berbagai keunggulan yang dimiliki oleh helikopter. Sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, serta terbatasnya sumber air di lokasi kebakaran bisa diatasi melalui pemboman air dari udara.

Kita mulai pembahasan dari heli “terkecil” yang dikerahkan BNPB, yaitu Bo-105. Heli ini cukup populer di Indonesia lantaran dilisensi oleh PT Dirgantara Indonesia. 3 Angkatan di TNI plus Polri juga menggunakan heli ini, meski di TNI-AU merupakan heli BASARNAS. Sebagai heli mungil, kapasitas membawa bucket air pun menjadi terbatas yaitu hanya 500 liter saja. Namun, peforma heli yang cepat dan lincah menjadi keunggulan tersendiri, artinya heli ini mampu bermanuver di tengah-tengah hutan dan mengambil air di lokasi-lokasi yang sulit dilakukan oleh heli berbadan besar.

Selanjutnya BNPB juga mengerahkan Bell-214. Heli ini sama terkenalnya dengan Bo-105, karena heli dari keluarga Huey ini banyak beroperasi di Indonesia. Sebagai heli kelas medium, Bell-214 mampu membawa “bom air” sebanyak 3000 liter. Heli ini juga terbukti tangguh dan handal digunakan untuk berbagai keperluan. Jika tidak membawa Bucket air, maka heli Bell-214 juga bisa berfungsi sebagai heli SAR.

Selain mengerahkan heli yang jamak terlihat, BNPB juga menyewa heli yang jarang ada di Indonesia, yaitu Kamov Ka-32. Secara fisik, heli ini tidak terlihat terlalu besar namun kapasitas pembawa keranjang air-nya mencapai 5000 liter. BNPB menempatkan heli ini di bandara Supadio Pontianak. Nah, pembaca ARCinc yang berada di Kalimantan Barat mungkin cukup beruntung bisa menyaksikan heli ini mondar mandir dan beraksi.

Terakhir, BNPB juga mengerahkan heli Mi-8. Heli ini merupakan kakak dari heli Mi-17 yang telah digunakan Oleh TNI-AD. Sosoknya yang lebih besar dibanding Bell-214, menunjukan kekuatannya membawa 5000 liter air dalam keranjang air. Selain sebagai heli pembom air, heli ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pendukung logistik dan personel.

Sayangnya, Pemerintah atau BNPB masih suka menyewa helikopter atau pesawat pembom air. Padahal, peristiwa kebakaran hutan terjadi setiap tahun dan membuat kerugian trilyunan rupiah. Wacana membeli pesawat amfibi atau helikopter pembom air, pupus terlupakan ketika memasuki musim hujan. Lalu ketika musim kemarau, kembali Pemerintah dan BNPB sibuk menyewa helikopter.

Tinggalkan Balasan

Top
%d blogger menyukai ini: