You are here
Home > Artikel > Malaysia Tiru Indonesia Kuasai Teknologi Bangun Kapal Perang, Gagal!

Malaysia Tiru Indonesia Kuasai Teknologi Bangun Kapal Perang, Gagal!

CNN.com (20/3/19) memberitakan dalam 5 tahun terakhir, PT. PAL Indonesia telah berulangkali membuktikan kemampuannya membangun berbagai macam kapal perang mulai yang berukuran besar seperti KRI Makassar, kapal fregat RE Martadinata, dan juga kapal cepat seperti KCR-60M.

Penguasaan teknologi rancang bangun kapal perang ini tentu saja membuat banyak negara ASEAN yang ketinggalan ingin menyusul. Malaysia contohnya, yang mengontrak galangan kapal Boustead untuk membangun kapal patroli LMS (Littoral Mission Ship).

navy.mil

Namun siapa nyana, belum lagi Boustead Naval Shipyard memulai pengerjaan kapal tersebut, Pemerintah Malaysia malah berbalik arah. Jika tadinya kontrak 4 kapal perang LMS akan dibuat 2 di Malaysia dan 2 di galangan kapal aslinya, maka Pemerintah Malaysia membatalkan kontrak pembuatan kapal di galangan kapal dalam negeri dan semua diserahkan kepada Cina.

Harga kontrak juga telah direvisi dari MYR1,17 miliar (USD286,1 juta) menjadi MYR1,05 miliar, kata Boustead Heavy Industries Corporation (BHIC) dalam pengajuan dengan bursa saham Malaysia pada 15 Maret. BHIC adalah perusahaan induk BNS yang terdaftar secara publik.

navy.mil

Pemerintah Malaysia, yang saat itu berada di bawah administrasi mantan perdana menteri Najib Razak yang ditangkap Polisi, menandatangani kontrak untuk empat LMS dengan perusahaan CSIC pada April 2017.

Berdasarkan kontrak, dua kapal pertama dalam program ini akan dibangun oleh galangan kapal yang berafiliasi dengan CSIC, sementara dua lambung sisanya akan dibangun oleh BNS sebagai transfer teknologi.

navy.mil

LMS memiliki panjang keseluruhan 68,8 m, balok keseluruhan 9 m, dan sarat air 2,8 m, dan akan memiliki berat sekitar 700 ton pada beban penuh. Ini akan memiliki kecepatan tertinggi 22 kt dan kisaran standar sekitar 2.000 n mil (3.704 km) pada 15 kt.

Kapal dapat dipersenjatai dengan kanon 20 mm atau 30 mm sebagai senjata utama dan dapat menampung dua titik senapan mesin 12,7 mm di area dek di belakang anjungan kapal.

Tinggalkan Balasan

Top