You are here
Home > Geopolitik > Kemana Rudal Super 530F Selundupan Dijual?

Kemana Rudal Super 530F Selundupan Dijual?

Menarik mencermati berita penggerebekan polisi Italia terhadap kelompok Neo-Nazi yang berbuntut pada temuan rudal Matra Super 530F, seperti dimuat situs arcinc.id dan kantor berita AFP (Rabu/Kamis, 15-16 Juli 2019).

Berita tersebut diakhiri dengan pertanyaan menggoda, siapa yang akan membeli rudal ini? Apakah sebuah negara yang masih mengoperasikan Mirage F1, jet tempur yang memang dirancang untuk mengusung rudal udara ke udara ini atau ke pihak lain?

Libya yang kini tengah menghadapi perlawanan faksi militer LNA (Libya National Army) pun tak ayal disebut-sebut. Pasalnya, cuma negeri non sekutu AS inilah yang masih memiliki sejumlah Mirage F1 dan kelompok tersebut dianggap berpotensi untuk menyalahgunakannya. Benarkah?

Jawabannya, bisa ya tapi bisa juga tidak. Untuk itu kepolisian dan badan intelijen Italia memang masih harus kerja keras menelusuri alur kepemilikan dari rudal yang kabarnya barang selundupan ini. Mereka harus bekerja sama dengan Interpol, karena hanya badan internasional inilah yang punya banyak catatan barang-barang selundupan berbahaya.

Seorang kolektor dengan rudal MATRA R530F eks Qatar. combatACE.com

Dan, bukan rahasia lagi kalau senjata dari beragam jenis juga kerap beredar di pasar gelap. Cara kerja pasar gelap senjata sendiri mirip jaringan pedagang benda antik yang kerap menawarkan barang lewat jaringan internet. Atas nama bisnis, mereka tak segan ambil untung besar dari selisih harga beli dan harga jual.

Untuk koleksi-koleksi tertentu, mereka sering membeli dengan harga miring, namun bisa menjualnya kembali dengan harga selangit, tergantung dari faktor kelangkaannya. Kalau hanya senapan serbu dan peluru, karena sudah banyak di pasaran, harganya pasti biasa-biasa sajalah.

Namun, tidak demikian dengan rudal yang biasa diusung jet-jet tempur khusus negara maju. Super 530F andalan Mirage F1 yang diduga merupakan barang selundupan dari Qatar itu, adalah diantaranya.

Mirage 2000C dengan Super 530F. lowyatforum.com

Rudal ini sangat langka, Perancis hanya menjualnya ke negara-negara tertentu. Dan, sangat kecil kemungkinan otoritas yang ditunjuk mau menjualnya per unit ke pasar gelap, apalagi karena tiap rudal memiliki nomor dan kode khusus.

Itu sebab, menurut hemat penulis, kecil kemungkinan juga rudal semata wayang tersebut akan disandingkan kembali ke pilon jet tempur Mirage F1. Asal-usul rudal ini bisa dengan mudah dilacak. Tak mudah juga bagi LNA untuk menggunakannya, mengingat mereka masih perlu kerja keras melawan pemerintahan Libya yang dikuasai GNA (Government of National Accord).

Lebih dari itu, belum tentu juga jet-jet itu masih operasional. Kemungkinan justru membesar jika rudal ini “dilempar” ke pihak lain alias end-user yang ingin meledakkannya secara manual untuk tujuan tertentu. Dan, calon pembeli seperti ini boleh jadi malah lebih banyak, mengingat sampai saat ini masih ada beberapa wilayah konflik di dunia.

Jika yang bakal terjadi memang seperti ini, rudal ini praktis akan jatuh ke pihak yang berani bayar lebih mahal dari calon pembeli lain. Dan, mereka harus siap mengeluarkan biaya tambahan karena masih diperlukan jasa khusus untuk melepas hulu ledak berikut detonatornya dari selongsong rudal.

Untuk perang asimetrik

Anda mungkin akan tersenyum dan berguman, ah seperti di film-film Holywood saja. Lebay! Eits, tunggu dulu. Jangan kira hal seperti itu tak mungkin terjadi.

Tak percaya? Kepada penulis, seorang narasumber yang mantan teroris pernah bertutur, bahwa aksi akal-akalan tersebut sesungguhnya sudah biasa di dalam konflik yang terjadi di berbagai negara, bahkan sering diterapkan dalam aksi terorisme yang sangat mengedepankan taktik perang asimetrik.

Diakuinya, mempereteli rudal atau bom yang biasa dijatuhkan/diluncurkan dari pesawat terbang memang berisiko, namun bukan tak mungkin dikerjakan. Narasumber tersebut bisa bercerita karena kebetulan pernah dilatih secara khusus oleh sejumlah expert untuk pekerjaan gila tersebut di sebuah kamp perlawanan MNLF di Filipina.

Personil AU AS menjinakkan bom pesawat yang gagal meledak. af.mil

Setelah lulus, waktu itu sekitar dasawarsa 1990-an, ia pun dimasukkan ke dalam special force for demolition and landmine. Ia bahkan pernah juga diterjunkan sebagai kepala instruktur pelatihan milisi di Ambon dan Poso pada tahun 2000.

“Singkat kata, tugas saya waktu itu adalah mereparasi bom-bom pesawat dan artileri (entah dari mana) yang tak meledak. Setelah itu, membongkar propelan, sirip stabilizer, lalu hulu ledak, untuk kemudian mengubahnya jadi bom antipersonel dan antitank.

Pekerjaan ini amat berisiko, terbukti sembilan rekan saya meninggal dalam urusan ini,” ungkapnya polos, ditemui di akhir sesi dialog pencegahan paham radikal dan terorisme di Jakarta beberapa tahun lalu.

Belakangan barulah disadari, bahwa petualangan yang semula dianggap sebagai aksi perjuangan atau jihad itu ternyata salah besar, dan kini hari-harinya pun lebih banyak diisi sebagai pembicara dalam berbagai dialog serta seminar deradikalisasi dan antiteroris yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Teroris.

Lalu seberapa besar daya ledak Super 530F buatan Perancis ini? Daya ledaknya tentu sangat tergantung dari jenis, tipe dan berat bahan peledak yang ada di hulu ledaknya.

Sejauh yang diketahui dari beberapa situs internet, hulu ledaknya berasal dari tipe high-explosive seberat 30 kilogram, namun tidak dijelaskan jenis bahannya. Kalau disimak dari peruntukannya, rudal ini dirancang untuk merontokkan jet tempur lawan.

Dengan demikian daya ledaknya tidaklah sedahsyat rudal yang diperuntukkan untuk menjebol bangunan. Struktur semua rudal sendiri, dari zaman Perang Dunia II sampai sekarang, hampir sama. Benda terbang ini memiliki bagian-bagian utama berupa: sistem penuntun, hulu ledak, mesin pendorong (berupa roket plus propelan atau turbofan plus bahan bakar cair), sistem kemudi, sayap, serta siripsirip stabilizer.

Sehingga jangan heran, jika seseorang mengerti jeroan sebuah rudal, dia akan mudah memahami pula jeroan rudal-rudal lainnya. Super 530F yang diperkenalkan pertama kali oleh Mecanique Aviation Traction (Matra) pada 1979 persisnya adalah varian pertama dari R.530.

Karena diperuntukkan untuk merontokkan jet tempur, inti rudal ini cenderung terletak pada mesin pendorong dan sistem penuntun. Mesin pendorongnya dilengkapi propelan padat yang mampu mendorong rudal hingga kecepatan 4,5 kali kecepatan suara, sementara penjejak semi-active radar homing-nya dirancang mampu menuntun rudal menuju radar jet tempur yang telah “dikuncinya”. (A. Darmawan, Pemerhati Kemiliteran)

Tinggalkan Balasan

Top