Angkatan Udara AS Direpotkan oleh Drone

Semakin murahnya harga mini drone seperti DJI Phantom dan sekian puluh merk lainnya ternyata tidak hanya menjadi ancaman bagi penerbangan sipil, tetapi juga bagi Angkatan Udara Amerika Serikat.

Insiden dimana drone sipil ini memasuki wilayah militer semakin tinggi. Bahkan dalam satu kasus di awal Juli 2017, pesawat tempur siluman F-22 Raptor yang baru saja hendak mendarat nyaris menumbuk drone yang terbang tak terdeteksi. Satu kejadian lainnya, drone dideteksi tengah terbang di atas gerbang masuk pangkalan udara, lalu malah melesat masuk ke dalam wilayah pangkalan udara sebelum akhirnya melarikan diri.

Bagi pesawat tempur seperti F-22, drone yang berukuran kecil dapat menjadi malapetaka kalau terhisap masuk ke dalam air intake, karena dapat menghancurkan bilah turbin dan kompresor dan menyebabkan ledakan hebat pada mesin pesawat.

Permasalahannya, AU AS tidak memiliki doktrin atau prosedur penanganan drone. Apakah prajurit yang tugas jaga harus menembaknya jatuh dengan senapan serbu? Bagaimana jika pemiliknya malah menuntut, mengingat belum ada yurisdiksi dan yurispudensi terkait penggunaan drone di wilayah militer.

Mengingat AU AS tidak memiliki perangkat untuk menjatuhkan drone, walaupun di luar sana banyak dijual perangkat seperti itu. Paspampres RI saja pernah menggunakannya untuk menjatuhkan sebuah DJI Phantom yang nekat terbang di sekitar istana.
Yang lebih ditakutkan lagi, karena kemampuannya untuk membawa kamera resolusi tinggi, drone dapat digunakan untuk memotret instalasi strategis seperti silo peluncuran rudal balistik antar benua dengan kemampuan hululedak nuklir, atau proyek-proyek rahasia militer Amerika Serikat lainnya.

Nah, AU AS saat ini tengah mengumpulkan para kontraktor militer untuk menciptakan sebuah senjata yang dapat menjatuhkan drone, tentu dengan standar militer. Tidak hanya untuk menangani masalah drone penyusup, tetapi juga drone yang dimodifikasi oleh para militan untuk membawa bom seperti di Suriah dan Irak.

Leave a Reply