Menakutkan, Korea Utara buat Rudal Penghancur Kapal Induk AS

Selain menunjukkan perkembangan yang cukup cepat dalam pengembangan rudal balistik yang mampu menjangkau wilayah-wilayah yang jauh, Korea Utara ternyata juga mengembangkan sistem senjata berupa rudal taktis yang bisa menghancurkan sasaran yang bergerak dengan kecepatan rendah seperti kapal induk.

Korea Utara merasakan kebutuhan untuk mengembangkan senjata seperti itu karena tekanan dari Amerika Serikat yang menghadirkan armada kapal induknya seperti USS Carl Vinson di semenanjung Korea, setelah Korea Utara membangkang atas sanksi internasional yang dijatuhkan kepadanya.

Rudal yang diberi nama Hwasong-7 tersebut dikembangkan dari teknologi rudal Scud, sama seperti generasi rudal-rudal sebelumnya. Hanya bedanya, karena diperlukan untuk menghantam sasaran yang bergerak, maka sirip kontrol pun ditambahkan ke bagian depan rudal, dekat dengan ujung tubuh rudal.

Para ilmuwan Korut melengkapi Hwasong-7 dengan sistem koreksi arah terbang atau trayektori, dan sistem manuver setelah rudal masuk kembali ke orbit untuk mengejar sasaran yang ada di permukaan laut. Hwasong-7 berhasil diuji pada akhir Mei dengan penembakan sejauh 450 kilometer ke arah laut. Korea Utara sendiri mengatakan bahwa isian propelan pada Hwasong-7 ini dikurangi. Jika bahan bakar diisi penuh, jaraknya bisa mencapai 1.000 kilometer.

Korea Utara mengklaim bahwa rudal barunya tersebut berhasil jatuh di titik impak, hanya 7 meter jauhnya dari sasaran semula. Jika benar, titik perkenaan yang hanya meleset 7 meter ini benar-benar revolusioner karena belum ada sistem pengendali rudal, baik di Barat maupun Timur, yang mampu memandu rudal sampai akurasi setepat itu.

Amerika Serikat sendiri tentu saja memiliki sistem pertahanan rudal seperti radar AEGIS dan rudal Standard SM-3 yang kini sedang dalam fase pengujian ekstensif untuk mampu mencegat rudal sebelum memasuki orbit. Di luar armada kapal perang, masih ada sistem THAAD yang terpasang di daratan, tetapi tentu saja tidak dapat digunakan untuk trayektori rudal yang mengarah ke lautan.

Kemampuan pencegatan rudal ini menjadi sangat krusial apabila Amerika Serikat membutuhkan kapabilitas militer saat terjadi eskalasi di Semenanjung Korea.

Hwasong-7 sendiri diangkut menggunakan kendaraan berbasis tank untuk mencapai titik peluncurannya. Korea Utara tercatat memamerkan Hwasong-7 untuk pertama kalinya pada parade militer tanggal 15 April 2017.

Walaupun memiliki mobilitas tinggi, Hwasong-7 dianggap masih punya kelemahan yaitu sistem bahan bakar cair yang membutuhkan waktu lama untuk pengisiannya. Artinya AS sendiri punya waktu untuk mendeteksi keberadaan kendaraan-kendaraan peluncur ini melalui foto citra satelit mata-mata dan melancarkan operasi militer apabila diperlukan.

Refrence:

Leave a Reply