Nasib Alutsista Soviet di RI Pasca Kejatuhan Orde Lama Menurut CIA

Para pemerhati pertahanan dan pembaca Angkasa pasti sudah paham betul, bahwa TNI pernah menjadi kekuatan terbesar di Belahan Selatan berkat pengadaan Alutsista dari Uni Soviet pada akhir 50an hingga pertengahan 60an. Kita juga kemudian mengetahui, seusai orde lama jatuh, Alutsista buatan Soviet itu seketika menjadi tak berarti bagai macan tanpa taring. Beberapa teori menyatakan bahwa Soviet mengembargo Indonesia, karena memberangus PKI atau pemutusan hubungan diplomatik. Namun, kini ada fakta lain yang tampil. Yaitu dokumen CIA yang sudah dirilis dan menggambarkan apa yang terjadi saat itu.

Menurut Dokumen CIA ini, sebelum upaya kudeta gagal PKI dilancarkan pada tahun 1965, Soviet telah memberikan bantuan sebesar US$ 1,4 milyar, dimana US$ 1,1 diantaranya diperuntukan bagi bantuan militer. Pengiriman berbagai persenjataan itu berlangsung sejak Februari 1957 hingga oktober 1965, dengan nilai total US$ 860 juta. Seperti kita ketahui peralatan itu antara lain, pesawat tempur keluarga MiG, Pembom, Kapal Penjelajah, dan sebagainya. Seperempat dari nilai bantuan itu merupakan harga diskon, disamping kemudahan kredit pinjaman yang mencapai 10 tahun dengan bunga hanya 2%, dan boleh dilunasi setelah masa tenggang yang bervariasi. Enak bukan?

Bantuan yang sangat besar (pada masanya) ini membuat TNI sangat tergantung pada suku cadang dari Soviet itu sendiri. Dan ketika angin politik berubah, sikap politik moskow pun berubah. Moskow menginginkan agar Indonesia menyelesaikan hutang-hutangnya terlebih dahulu, sebelum memberikan sejumlah suku cadang yang dibutuhkan. Namun demikian, pada perjanjian yang ditanda tangani september 1967, Soviet akhirnya mau menjual sejumlah suku cadang senilai US$ 10 juta, namun dengan pembayaran tunai, dan menolak pengajuan kredit dari Indonesia. Indonesia yang saat itu tengah kesulitan keuangan, tentu saja merasa kerepotan. Tapi akhirnya, pemerintah terpaksa membeli suku cadang itu namun hanya senilai US$ 5 juta alias setengahnya saja.

Selanjutnya tentu kita sudah mengetahui, semakin hari keadaan peralatan tempur eks soviet itu semakin memprihatinkan. Hampir seluruh kekuatan udara TNI lumpuh pada awal tahun 70an. Bahkan di akhir 1970, Pemerintah terpaksa menjual 4 buah kapal yang terdiri dari Destroyer kelas Skory, LST, Kapal bantuan dan Kapal patroli bermeriam senilai US$ 250 ribu saja. Padahal keempatnya saat dibeli bernilai total US$ 7 juta. Beberapa kapal, pesawat, dan peralatan lainnya juga sudah menunggu untuk dijual, termasuk KRI Irian yang dibeli senlai US$ 33 juta.

Kesimpulannya, menurut dokumen CIA ini, kejatuhan peralatan militer asal Soviet ini lebih dikarenakan Moskow tidak lagi berperan sebagai Sinterklass, yang mau memberikan berbagai kemudahan. Sementara, di sisi Indonesia juga tidak mampu mengadakan pembelian suku cadang dengan cara tunai. Ini pula menjelaskan, mengapa produk blok timur lainnya yang bukan buatan Soviet, seperti L-129 masih tetap terbang hingga tahun 1980-an.

Leave a Reply