Mengapa Penerbang Perlu Mengenakan G-Suit?

Mungkin banyak sebagian orang yang belum tahu mengapa penerbang harus mengenakan baju tambahan selain overall yang mereka kenakan, pada saat akan melakukan terbang. Khususnya bagi para penerbang pesawat tempur atapun aerobatic. Walaupun penulis yakin, bagi sebagian orang yang hobby akan dunia militer atau dirgantara pasti sudah mengerti atau bahkan tahu fungsi dan prinsip kerja dari pakaian tersebut.

Pakaian yang dimaksud adalah baju anti gravitasi atau lebih dikenal dengan G-Suit. Pakaian ini berfungsi sebagai alat bantu penerbang pesawat tempur dalam menahan beban/gaya gravitasi yang dialaminya ketika sedang melakukan manuver pada saat menghindar dari serangan pesawat musuh atau manuver-manuver berbahaya lain yang sering dipertunjukan oleh para pilot-pilot aerobatic, dimana batas-batas limitasi kemampuan diri sering dilewati demi menampilkan pertunjukan yang dramatis dan sempurna. Akan tetapi penulis yakin sehebat apapun baik penerbang tempur maupun penerbang aerobatic dalam melakukan manuver, niscaya hal tersebut tidak dapat dilakukan dan tidak dapat berbuat apa-apa tanpa didukung dengan G-Suit pada tubuhnya pada saat terbang.


Tubuh manusia pada umumnya hanya mampu menahan 5G – 6G meskipun para penerbang tempur profesional mampu bertahan dan mengatasi gaya lebih dari 6G. Disamping G-Suit yang ia kenakan, tentunya dengan latihan khusus secara rutin dan latihan teknik pernafasan khusus pada saat terkena gaya G. Dengan adanya pesawat-pesawat tempur canggih dengan kemampuan manuver sampai dengan G tinggi seperti F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, F/A-18 Hornet, Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale dan lain-lain, inovasi  dari pabrikan-pabrikan G-Suit pun saling berlomba untuk memproduksi G-Suit terbaiknya, dengan kemampuan yang mampu mengimbangi manuver-manuver ekstreme dari pesawat-pesawat tersebut hingga penerbang mampu menahan sampai dengan 9 G.

Dalam istilah dunia penerbangan terdapat dua jenis G manuver, yaitu manuver G positif pada saat pesawat melakukan manuver menukik  dan G negative pada saat manuver menanjak ke atas. Seorang penerbang yang terkena G force secara berlebihan akan menerima efek Blank Spot (mata tidak mampu melihat) dan aliran darah dari kaki akan cepat mengalir ke otak ataupun darah mengalir ke kaki saat terkena G positif. Secara ilmiah resiko dan dampak langsung secara fisiologi yang dialami penerbang apabila tidak mengenakan G-Suit dan ketika terkena gaya G yang berlebihan ini adalah akan mengalami penurunan tekanan arteri carotis. Yaitu suatu keadaan dimana tekanan arterti centralis retina tidak dapat lagi mengatasi tekanan bola mata. Pada kondisi tersebut penglihatan akan terganggu karena pada umumnya penerbang akan mengalami grey out (pandangan keabu-abuan), black out (pandangan kehitaman) atau bahkan sampai kehilangan kesadaran atau G-LOC (Gravity Loss Off Conciousness) yang tentunya membahayakan keselamatan penerbang.

Prinsip dasar dari G-Suit menyerupai alat tensi darah dalam dunia kesehatan yaitu dengan mengkoneksikan selang anti G yang terdapat pada G-Suit dengan anti G Suit regulator valve pada pesawat, dimana pada saat pesawat melakukan manuver yang dapat menimbulkan gaya G maka secara otomatis regulated air akan memompa udara ke G-Suit. Dan secara bersamaan G-Suit akan mengembang sehingga menekan bagian-bagian tubuh seperti pinggang, paha dan betis, sehingga tetap menjaga darah tidak mengalir ke otak secara berlebihan, ataupun darah mengalir ke kaki, pada saat manuver G positif. Dengan demikian proposi darah dalah tubuh tetap seimbang dan kesadaraan ataupun efek blank spot pada tubuh penerbang dapat dihindari.

Pada tahun 2008 dalam sebuah kasus kecelakaan pesawat F-16C milik Angkatan Udara Amerika yang menewaskan Capt. Eric Ziegler dalam sebuah misi latihan pertempuran udara ke udara (dog fight), di 150 Km sebelah utara Las Vegas, 26 menit dari Nellis Air Force Base. Dugaan sementara dari hasil investigasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat, ditemukan bahwa adanya kegagalan fungsi kerja pada G-Suit yang dikenakan oleh Capt. Eric Ziegler yang mengakibatkan penerbang mangalami G-LOC (Gravity Loss Off Conciousness) atau kehilangan kesadaran, hal ini disimpulkan setelah dilakukan test/pengujian secara acak terhadap G-Suit dengan model dan tipe yang sama yang dikenakan oleh Capt. Eric Ziegler. Jika dari hasil investigasi tersebut memang benar demikian maka selain pesawat, G-Suit juga merupakan peralatan yang vital bagi para penerbang yang dapat berakibat fatal apabila terjadi kegagalan pada fungsi kerjanya. Oleh karena itu perawatan secara berkala maupun modernisasi G-Suit bagi para penerbang mutlak harus menjadi perhatian karena apabila penerbang sampai mengalami G-LOC, bukan hanya asset pesawat tempur dengan harga milyaran yang akan hilang, akan tetapi nyawa penerbang sebagai asset yang paling berhargapun dipertaruhkan.

Sumber :
http://www.lvrj.com/news/anti-g-suit-questioned-in-crash-that-killed-nellis-pilot-136899798.html
http://infopenerbangan.com/berita/internasional/cara-pilot-tempur-bekerja/
http://id.shvoong.com/humanities/1615708-semampu-apa-kita-menahan-gravitasi/

Leave a Reply