TNI-AU Ajukan Kembali Pembelian AW-101

Meski sempat ditolak, TNI-AU kembali mengajukan pembelian helikopter VVIP jenis AW-101. Dalam dokumen yang diterima ARCinc, pengajuan pembelian itu dilakukan sejak bulan Juli 2016 silam. Surat pengajuan itu dikirimkan ditandatangani langsung oleh Kepala Staf TNI-AU Marsekal TNI Agus Supriatna dan ditujukan kepada Menteri Pertahanan.

Dalam pemberitaan Kompas, TNI-AU menyebutkan Helikopter tersebut diperuntukkan bukan untuk VVIP, melainkan untuk angkut berat. Namun, anehnya jumlah yang dibeli hanya 1 buah saja. Sementara dalam dokumen Minimum Essential Forces, TNI-AU memang membutuhkan sedikitnya 6 buah Heli Angkut berat. Menteri pertahanan sendiri tidak membantah rencana pembelian helikopter VVIP itu. Saat ini proses pembelian masih dalam kajian. “kalau untuk kepresidenan, iya. ¬†Presiden itu penting. Presiden harus pilih yang mana yang aman”, jelas Menhan Jenderal Purn. Ryamizard Ryacudu.

Polemik pengadaan helikopter VVIP mencuat pada akhir tahun 2015 silam. Saat itu, rencana TNI-AU membeli helikopter AW-101 ditentang sejumlah kalangan, terutama PT Dirgantara Indonesia yang mengajukan Super Puma Versi VVIP. Heli super Puma sendiri sudah dirakit oleh PT Dirgantara Indonesia sejak lama. Namun TNI-AU beralasan, pesanan helikopter ke PTDI selalu mengalami keterlambatan. Bahkan pesanan Helikopter Super Puma sejak dari tahun 1998, hingga kini belum dikirim. Polemik berakhir ketika Presiden Jokowi memutuskan membatalkan rencana pengadaan tersebut.

Leave a Reply