You are here
Home > Uncategorized > Journey of National Helicopter (bagian ke-2)

Journey of National Helicopter (bagian ke-2)

 

Era Heli Modern

Dengan diresmikannya Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) pada bulan Agustus 1976 oleh Presiden Soeharto yang merupakan penggabungan potensi beserta aset dan fasilitas yang dimiliki divisi ATTP- Pertamina dengan aset Lembaga Industri Pesawat Nurtanio (LIPNUR) milik TNI AU di Bandung, maka terbukalah cakrawala baru industri kedirgantaraan nasional yang lengkap sarana-prasarana serta tersedianya SDM yang cukup. Tokoh aeronautic kaliber dunia DR. BJ. Habibie diangkat sebagai Direktur Utama segara mencanangkan misi dan program industri kedirgantaraan yang modern ditanah air melalui cara ‘evolusi yang dipercepat’ dengan cara alih teknologi dari negara maju.


Produksi pertamanya adalah pesawat fixed wing NC-212 Aviocar yang mendapat lisensi dari CASA Spanyol dan untuk rotary wing pertamanya helikopter ringan serbaguna NBo-105 yang juga dibuat berdasar lisensi dari MBB Jerman. Pada bulan November 1977 IPTN kembali melakukan kerjasama dengan Aerospatiale Perancis memproduksi secara lisensi helikopter NSA-330 dan NAS-332 Super Puma. Lima tahun kemudian pada bulan yang sama November 1982, dilakukan kerjasama serupa dengan Bell Helicopter Textron Amerika Serikat untuk memproduksi helikopter NBell-412 di tanah air.


Seperti halnya kerjasama lanjutan antara CASA dengan IPTN yang melakukan joint venture mendirikan Aircraft Technology Industries (Airtech) pada tahun 1979 untuk mengembangkan pesawat CN-235, hal serupa dilakukan IPTN dengan MBB untuk memproduksi helikopter ringan bersama dengan membentuk usaha patungan bernama New Transport Technology (NTT). Proyek pertamanya adalah mengembangkan helikopter ringan serbaguna yang bisa diaplikasi untuk berbagai keperluan baik untuk angkut penumpang, heli latih, surveillance & observation, SAR maupun MedEvac. Penandatanganan kerjasama dilakukan di Munich Jerman pada bulan April 1984.


Heli dengan nama BN-109 (Bolkow Nurtanio-109) ini sekelas dengan Bo-105 namun menggunakan mesin turbin tunggal agar penggunaan bahan bakar lebih efisien mengingat pada masa itu harga BBM dunia melonjak. Heli ini dirancang agar mudah dioperasikan, mudah perawatan serta memiliki biaya operasional yang rendah. Dengan spesifikasi MTOW 1200 kg, kecepatan maksimum 200 km/jam dan jarak tempuh hingga 500 km yang mampu mengangkut 4 orang penumpang. Namun dengan normalnya kembali harga BBM dunia dipenghujung tahun 80-an program ini surut terhenti pada tahap preliminary design dan meninggalkan mock-up 1:1 saja.


Ditengah hingar bingarnya perayaan menyambut 50 tahun kemerdekaan Indonesia, IPTN yang telah berubah nama dari Nurtanio menjadi Nusantara terus memompa semangat untuk makin mandiri. Setelah berhasil dengan proyek N-250, divisi (SBU) helikopter-pun turut mencanangkan dua proyek helikopter sekaligus. Yang pertama NH-2 ALCLH (Advanced Low Cost-Light Helicopter) berkapasitas dua penumpang sebagai heli latih serta untuk transport dengan menggunakan mesin piston dan NH-5 berkapasitas 5 penumpang serupa dengan proyek BN-109. Keduanya sempat dipamerkan di ajang IAS 96 walau hanya berupa model skala.


Akibat badai krisis moneter yang melanda Indonesia ditahun 1997, kembali memporak porandakan mimpi Indonesia untuk membangun helikopternya sendiri. Sekarang dibawah nama baru PT DI, SBU helikopter diberi kepercayaan oleh Eurocopter untuk melanjutkan produksi helikopter serbaguna kelas medium NAS-532 Cougar mulai tahun 2008 lalu. Selain itu PTDI juga telah menandatangani kerjasama lanjutan dengan Eurocopter untuk mengembangkan heli ringan Fennec dan Ecuirrel di tanah air untuk menggantikan NBo-105 yang lisensinya telah berakhir tahun 2009 lalu.


Tinggalkan Balasan

Top